
Produk hasil bumi di Afghanistan memang selalu membuat masalah menjadi rumit. Di satu pihak, dalan rekonstruksi Afghan secara ekonomi makro, semua sumberdaya natural yang mempengaruhi hajat hidup masyarakat setempat wajib dipertahankan, dikembangkan bahkan dibudidayakan agar menjadi landasan bagi rintisan pembangunan tahap lanjut.
Masalahnya sekarang jika bahan pertanian dan lahan olahan semuanya tertuju pada bahan bahan yang oleh peraturan Internasional cukup medapat sorotan maupun dilarang diberbagai negara. Opium, merupakan sumber agro bisnis di Afghanistan yang utama. Bahkan Afghanistan sesuai data terkini dari U.N menempati urutan teratas sebagai negara pemasok opium terbesar didunia yaitu sebesar 92.6%. Cukup mencengangkan.
Produk ini juga menjadi buah simalakama bagi pasukan sekutu, karena biasanya para petani di daerah pegunungan tidak dapat terkontrol oleh pasukan Republik Islam Afghanistan. Sehingga ladang ladang tersebut sering di-terror maupun dimintai upeti oleh kelompok kelompok Taliban untuk pembiayaan perang mereka. Padahal pertanian di pegunungan sepanjang daerah Republik Islam Afghanistan hampir 76% dibanding par petani besar dan modern di daerah suburban yang dikontrol dan dilindungi pasukan pemerintah Afghanistan.
Hasil jualan dari Opium yang dirampas dari petani kemudian dijual ke pasar gelap untuk mendatangkan senjata senjata modern ex Soviet maupun Eropa timur yang cenderung murah dan "user-friendly" bagi para Taliban.
Sementara itu, dipihak pasukan sekutu, ada juga simalakama lain. Yaitu dengan adanya perintah pusat untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri (kecuali masalah keamanan negara) Republik Islam Afghanistan. Padahal masalah tersebut bagaikan menegakkan benang yang basah. Masalah masalah dalam negeri regional selalu terletak antara persaingan suku, aliran agama, ketua kelompok dll yang ujung ujungnya mengarah ke keamanan regional. Padahal sudah ada perintah pusat untuk meminimalkan korban dari pihak sipil.
Barangkali diantara pembaca ada yang dapat membedakan antara rombongan petani dengan Taliban seperti gambar dibawah ini? Saya akan coba kumpulkan comment dan akan saya postingkan di topik berikutnya.Masalahnya sekarang jika bahan pertanian dan lahan olahan semuanya tertuju pada bahan bahan yang oleh peraturan Internasional cukup medapat sorotan maupun dilarang diberbagai negara. Opium, merupakan sumber agro bisnis di Afghanistan yang utama. Bahkan Afghanistan sesuai data terkini dari U.N menempati urutan teratas sebagai negara pemasok opium terbesar didunia yaitu sebesar 92.6%. Cukup mencengangkan.
Produk ini juga menjadi buah simalakama bagi pasukan sekutu, karena biasanya para petani di daerah pegunungan tidak dapat terkontrol oleh pasukan Republik Islam Afghanistan. Sehingga ladang ladang tersebut sering di-terror maupun dimintai upeti oleh kelompok kelompok Taliban untuk pembiayaan perang mereka. Padahal pertanian di pegunungan sepanjang daerah Republik Islam Afghanistan hampir 76% dibanding par petani besar dan modern di daerah suburban yang dikontrol dan dilindungi pasukan pemerintah Afghanistan.
Hasil jualan dari Opium yang dirampas dari petani kemudian dijual ke pasar gelap untuk mendatangkan senjata senjata modern ex Soviet maupun Eropa timur yang cenderung murah dan "user-friendly" bagi para Taliban.
Sementara itu, dipihak pasukan sekutu, ada juga simalakama lain. Yaitu dengan adanya perintah pusat untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri (kecuali masalah keamanan negara) Republik Islam Afghanistan. Padahal masalah tersebut bagaikan menegakkan benang yang basah. Masalah masalah dalam negeri regional selalu terletak antara persaingan suku, aliran agama, ketua kelompok dll yang ujung ujungnya mengarah ke keamanan regional. Padahal sudah ada perintah pusat untuk meminimalkan korban dari pihak sipil.
Petani

Taliban








