Quantcast
Channel: Horas Bang Humphrey
Viewing all 25 articles
Browse latest View live

Produk pertanian Afghanistan

$
0
0

Produk hasil bumi di Afghanistan memang selalu membuat masalah menjadi rumit. Di satu pihak, dalan rekonstruksi Afghan secara ekonomi makro, semua sumberdaya natural yang mempengaruhi hajat hidup masyarakat setempat wajib dipertahankan, dikembangkan bahkan dibudidayakan agar menjadi landasan bagi rintisan pembangunan tahap lanjut.

Masalahnya sekarang jika bahan pertanian dan lahan olahan semuanya tertuju pada bahan bahan yang oleh peraturan Internasional cukup medapat sorotan maupun dilarang diberbagai negara. Opium, merupakan sumber agro bisnis di Afghanistan yang utama. Bahkan Afghanistan sesuai data terkini dari U.N menempati urutan teratas sebagai negara pemasok opium terbesar didunia yaitu sebesar 92.6%. Cukup mencengangkan.

Produk ini juga menjadi buah simalakama bagi pasukan sekutu, karena biasanya para petani di daerah pegunungan tidak dapat terkontrol oleh pasukan Republik Islam Afghanistan. Sehingga ladang ladang tersebut sering di-terror maupun dimintai upeti oleh kelompok kelompok Taliban untuk pembiayaan perang mereka. Padahal pertanian di pegunungan sepanjang daerah Republik Islam Afghanistan hampir 76% dibanding par petani besar dan modern di daerah suburban yang dikontrol dan dilindungi pasukan pemerintah Afghanistan.

Hasil jualan dari Opium yang dirampas dari petani kemudian dijual ke pasar gelap untuk mendatangkan senjata senjata modern ex Soviet maupun Eropa timur yang cenderung murah dan "user-friendly" bagi para Taliban.

Sementara itu, dipihak pasukan sekutu, ada juga simalakama lain. Yaitu dengan adanya perintah pusat untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri (kecuali masalah keamanan negara) Republik Islam Afghanistan. Padahal masalah tersebut bagaikan menegakkan benang yang basah. Masalah masalah dalam negeri regional selalu terletak antara persaingan suku, aliran agama, ketua kelompok dll yang ujung ujungnya mengarah ke keamanan regional. Padahal sudah ada perintah pusat untuk meminimalkan korban dari pihak sipil.

Barangkali diantara pembaca ada yang dapat membedakan antara rombongan petani dengan Taliban seperti gambar dibawah ini? Saya akan coba kumpulkan comment dan akan saya postingkan di topik berikutnya.

Petani












Taliban

Di negeri Taliban.

$
0
0
Dalam perjalanan hidup sehari hari yang sibuk diantara desingan peluru dan bom, ada berberapa hal yang menarik untuk diamati secara spontan. Hal hal yang luput dari pengamatan saya selama berada dilapangan akibat suasana stress dan adrenaline-rush.

Jarang saya dapat kesempatan melihat detail dari Afghanistan landscape dan menikmatinya secara manusia normal. Ditambah lagi beberapa imbuhan yang mungkin dapat direnungkan dikala santai sambil menumpangkan kaki ke meja ditemani kepulan asap cigar dan kopi.




Beginilah kira kira gambaran "perkotaan" bagi desa desa di pedalaman Afghanistan. Daerah ini pula masyarakat setempat seringkali pusing diantara himpitan dua raksasa yaitu tentara sekutu dan Taliban. Disatu pihak mereka menginginkan pasukan sekutu untuk menjaga keamanan dan bantuan makanan yang disalurkan dengan seksama. Pula bantuan kesehatan yang sangat sangat dibutuhkan bagi masyarakat setempat. Masalahnya, karena keterbatasan jumlah pasukan dan luasnya daerah yang dicover kedatangan pasukan sekutu ini sekitar sebulan sekali.

Dilain pihak Taliban hampir tiap malam menggedor dan meneror masyarakat setempat dengan ancaman halus maupun kasar. Justru inilah yang menjadikan api dalam sekam bagi penduduk setempat terhadap Taliban. Dimata Taliban, jika penduduk yang membantu atau bekerja untuk sekutu atau bahkan menerima bantuan dari tentara sekutu maka dianggap sebagai TAKFIR, yang dihalalkan darahnya untuk ditumpahkan.

Surah An-Nisa (Q 04-115) menjelaskan bahwa:
And whoever contradicts and opposes the Messenger (Muhammad) after the right path has been shown clearly to him, and follows other than the believers' way, We shall keep him in the path he has chosen, and burn him in Hell – what an evil destination!
Dalil dalil dalam hukum Islam pun tidak jarang dibabarkan oleh para Taliban kepada masyarakat pedalaman Afghan ini yang justru juga ummat Islam baik yang sesama Sufi maupun Shi'ah.
Tidak sedikit para pemikir Islami yang tidak setuju dengan perlakuan Taliban, yang juga menyodorkan tantangan dengan dalil dalam Qur'an, diberondong dan mayatnya yang rusak berat ditinggalkan begitu saja sebagai peringatan bagi masyarakat dusun.

Dalam anggapan Taliban masyarakat yang menentang adalah Kafrul-Inkaar (yang mengingkari harkatnya sebagai muslim) maupun Kafrul-Istihlaat (yang mencoba hal hal yang telah digariskan sebagai Haram menjadi Halal). Berdasarkan dalil Surah An-Nahl (Q16,83)

Ditengah galaunya perang, bagi penduduk desa didaerah tandus ini: air, bahan makanan, bantuan obat-obatan, buku bacaan bagi anak anaknya serta hal penunjang hidup mendasar lainnya dari tentara sekutu atau dari tangan pemerintah Republik Islam Afghanistan adalah hal yang HARAM dimata Taliban. Anehnya mereka justru diwajibkan untuk kembali bercocok tanam seperti nenek moyang mereka. Menanam pohon canabis, yang justru dapat membantu perjuangan Mujahid.

Memang sangat sangat sulit jika saya berada dalam posisi sebagai penduduk tersebut.

Sebagian para pemuda yang berbadan sehat diminta untuk ikut berjuang, baik dengan paksaan maupun dengan janji-janji bahwa akan diikutkan (diselundupkan) menjadi pengungsi ke Pakistan untuk berkumpul dengan anggota keluarga yang umumnya wanita.





Dipaksa untuk meledakkan instalasi pemerintah Afghan maupun instalasi sekutu. Ataupun untuk membom pasar pasar sipil didaerah perkotaan yang padat penduduk atas nama Taliban.

Dari berbagai aksi yang dilancarkan, sebagian masih tertangkap hidup hidup dengan kondisi tanpa cedera sedikitpun. Dari kondisi ini setelah diadakan interogasi yang cukup intens, memang menunjukkan bahwa sebenarnya mereka adalah korban diantara kedua belah pihak. Dengan cucuran airmata kadang kadang mereka menceritakan bagaimana mereka dipaksa oleh kaum talib untuk melakukan tindakan yang radikal terhadap sesamanya sendiri yaitu penduduk kampungnya.




EPILOG

Counter Insurgency merupakan masalah yang cukup pelik bagi sebuah pasukan. Sejarah mencatat bahwa dalam perang asimetrik, persepsi masyarakat setempat adalah faaktor kunci yang dapat dijadikan laverage bagi loncatan serangan maupun proses "menggunting di-lipatan".
Terlepas dari tujuan maupun apologetic dari perang tersebut, di dalam hati saya justru berpihak pada kaum yang tertindas ini. Karena biar bagaimanapun juga mereka pada posisi selalu kalah kepentingan terhadap kedua kutub yang berlawanan.

How dangerous are un-informed Experts ?

$
0
0
I came across one article that was written on Foreign Affairs, presenting Prof. John Mueller of Political Science Ohio State University. With the eye-catching title as : "How Dangerous Are the Taliban?"

Basically Prof. Mueller underlined of what he has emphasized on his summary as The Taliban and al Qaeda may not pose enough of a threat to the United States to make a long war in Afghanistan worth the costs. Further more he says:
President Barack Obama insists that the U.S. mission in Afghanistan is about "making sure that al Qaeda cannot attack the U.S. homeland and U.S. interests and our allies" or "project violence against" American citizens. The reasoning is that if the Taliban win in Afghanistan, al Qaeda will once again be able to set up shop there to carry out its dirty work. As the president puts it, *1(NYT,03-27-09) Afghanistan would "again be a base for terrorists who want to kill as many of our people as they possibly can." This argument is constantly repeated but rarely examined; given the costs and risks associated with the Obama administration’s plans for the region, it is time such statements be given the scrutiny they deserve.

Multiple sources, including Lawrence Wright's book The Looming Tower, make clear that the Taliban was a reluctant host to al Qaeda in the 1990s and felt betrayed when the terrorist group repeatedly violated agreements to refrain from issuing inflammatory statements and fomenting violence abroad. Then the al Qaeda-sponsored 9/11 attacks -- which the Taliban had nothing to do with -- led to the toppling of the Taliban’s regime. Given the Taliban’s limited interest in issues outside the "AfPak" region, if they came to power again now, they would be highly unlikely to host provocative terrorist groups whose actions could lead to another outside intervention. And even if al Qaeda were able to relocate to Afghanistan after a Taliban victory there, it would still have to operate under the same siege situation it presently enjoys in what Obama calls its "safe haven" in Pakistan.

His arguments fell on the remarks that clearly justified as :
Given the Taliban’s limited interest in issues outside the “AfPak” region, if it came to power again now, it would be highly unlikely to host provocative terrorist groups whose actions could lead to another outside intervention.
Which in my opinion is somewhat true. Taliban seems to be home-grown around "AfPak" region. In other words, they do not have any positive interaction with any terrorist groups outside their region.
But labeling "highly un-likely" to host provocative terrorist groups is untrue. The Taliban is excessively corroborated with any terrorist groups merely because they are posing a positive effect on backing up Taliban-utopia. Any terrorist group are perceived by the Taliban to erect martyrdom to uphold Sharia-Law and as well to give the Taliban more world's attention toward them.

I would say, that it was poor journalism and ludicrous thought of Prof. Mueller to the fact that he has emphasized Taliban as "several hundreds men running around Af-Pak region", thus threat significance are minimal to United States.
Clearly, it does alarmingly understate the dangers posed by Talibans as well its linkage to al Qaeda and many Drug-lords as Kingpin.

This Narco-dollar is the only ticket played by Taliban to supply their columns with modern weaponry. With the help of syndicated of well-connected intelligences in Pakistan, they might acquire best weaponry in black market including its training. Furthermore, nuclear non-Proliferation is extremely important, so the enemy has no chance in acquiring nuclear (dirty-bomb) within U.S border.

EPILOG

Prof. Mueller makes several assumptions without providing any sufficient backups. As well he uses selective sampling by quoting failing support for Al-Qaeda from Muslim world. He fails to provide any proof for this assertions although Pew conducts global survey's on this very topic. Also, if Al Qaeda was as despised as the author infers then why haven't locals turned Osama in? What explains the ample supply of Al-Qaeda's propaganda available for purchase in any bazaar in Quetta or Peshawar?

This will rise a question on how dangerous are un-informed experts to pose as "a supplier" of facts that it can be cited upon by others to backup their thoughts as well? Having his opinion being posted on such celebrated tabloid of journalism as Foreign Affairs.

Surat Tanggapan ke Eramuslim

$
0
0
Dalam sebuah diskusi, seorang rekan mencantumkan sebuah wacana dari Eramuslim yang memaparkan berita tentang bagaimana penanganan di Afghanistan. Barangkali ada baiknya untuk dilihat sebagai berikut.
Eramuslim, Rabu, 24/02/2010 17:25 WIB
Tak Mudah Melumat Taliban

Janji Panglima Nato di Afghanistan, Jendral Mc Chrystal akan melumat Taliban dalam dua pekan tak terbukti. Pergerakan pasukan Nato di Helmand, yang masuk kota ke Marjah sangat lambat. Justru menunjukkan pengecutnya pasukan Nato, yang hanya mampu menggunakan tameng pasukan darat dan polisi Afghanistan, yang ada di garda paling depan menghadapi Taliban. Sementara pasukan Nato, yang terdiri dari marinir dari AS, hanya berlindung di balik tank dan kendaraan pengangkut personil.
 
Secara matematis pasukan Nato, yang digelar di propinsi Helmand itu, jumlahnya mencapai sepertiga atau lebih dari 35.000 pasukan. Dengan dukungan seluruh kekuatan dan persenjataan militer, seperti penyapu ranjau darat, halikopter black hawk, pesawat tempur F.16, dan pesawat tanpa awak (drone), yang terus mengelilingi kota Helmand, dan memuntahkan rudal, ke sasaran-sasaran yang diduga menjadi tempat markas Taliban. Mestinya hanya dengan hitungan jari tangan Taliban sudah punah. Semuanya itu tak terbukti.
Faktanya operasi militer yang menggunakan sandi `Mushtarak', yang dalam bahasa pashtun itu, berarti `bersama', justru yang banyak menjadi korban adalah penduduk sipil, yang terdiri wanita dan anak-anak, yang tidak berdosa. Pihak Nato selalu menuduh Taliban menggunakan penduduk sipil sebagai tameng, menghadapi serangan yang dilakukan pasukan Nato. Seperti ketika iring-iringan bus yang ditumpangi wanita dan anak-anak yang akan meninggalkan kota Marjah, diserang pesawat tempur tanpa awak (drone), yang menyebabkan 24 orang tewas.
Sudah berulang kali pasukan Nato yang menggunakan pesawat tanpa awak itu salah sasaran. Di perbatasan Pakistan-Afghanistan, terutama di Selatan Waziristan, Baluchistan, Boujur, dan Bahmian, tak semuanya yang menjadi korban adalah Taliban. Bulan September tahun 2008, justru yang menjadi korban, adalah anak-anak sekolah. Lebih dari 200 anak sekolah yang ada diperbatasan Pakistan, Selatan Waziristan, tewas oleh serangan pesawat tanpa awak.
 
Inilah sejarah pembataian yang dilakukan AS, sejak zaman Presiden Bush dan dilanjutkan oleh Presiden Barack Obama, terhadap rakyat sipil, di Pakistan, Afghanistan, dan Irak, mencapai eskalasi yang paling luas, dan mengerikan. Pembantaian yang tiada tara terhadap rakyat sipil, yang dilakukan oleh sebuah pemerintahan negara, yang mengaku menganut paham demokrasi, dan mengakui hak-hak sipil, seperti hak-hak dasar, termasuk hak untuk hidup. Justru Obama yang baru mendapatkan hadiah `Nobel Perdamaian', belum lama ini telah mempertontonkan kejahatannya di depan masyarakat dunia, yang tidak hentinya membantai rakyat sipil yang tidak berdosa.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat dengan penulis di Eramuslim, barangkali ada baiknya saya sampaikan pandangan yang nyata terjadi di Propinsi Helmand dan Kunar. Karena kebetulan pasukan saya yang menjadi motor disana dan menjadi daerah kerja saya.

1. Tujuan pasukan sekutu saat ini bukan untuk meremukkan atau melumat Taliban, justru untuk ditekan kembali ke kantung kantung resistansi pranata awal mereka. Hal ini selaras dengan kehendak Washington yang akan memasukkan kelompok Taliban kedalam anggota parlemen Republik Islam Afghanistan. Jadi sekali lagi bukan untuk dihancurkan total. Kaum Talib telah melakukan serangan ke basis oposisi Politiknya dan menggunakan event tersebut sebagai batu loncatan untuk menekan perhatian rakyat Afghan umumnya. Sehingga serbuan ke Helmand dan Kunar dimaksudkan untuk menghalau Talib kembali ke daerahnya guna menjamin stabilitas politik internal di Afghanistan.

2. Serbuan ke Marjah memang sedikit lambat karena banyaknya "kontingen lain" yang diwajibkan ikut dalam serbuan kali ini. Sebut saja dua bus penuh wartawan dan pengamat dari badan U.N yang keselamatannya harus dipertanggungjawabkan. Mengingat hampir tiap jengkal tanah ke Marjah di tanam IED maupun booby-traps berupa "bouncing-betty". Sehingga US Marine sebagai pasukan pathfinder Infantry menyisir tiap daerah dan memastikan aman bagi kendaraan pengangkut pasukan NATO lainnya.

3. Pasukan Pakistan dan tentara nasional Afghaistan memang merupakan bagian dari operasi ini. Perlu diingat kembali bahwa Washington meminta agar kepercayaan rakyat Afghan terhadap pemerintah Afghanistan tertata kembali dengan melihat terlibatnya pasukan pemerintah yang syah. Pula saya mengembangkan siasat senjata makan tuan. Dulu recruitment pasukan afghan banyak disusupi simpatisan Talib yang memberi informasi gerakan pasukan sekutu. Sekarang pasukan pemerintah Afghan berpakaian ala Talib dan berdiri diantara kaum Taliban sembari memberi umpan balik informasi (hum-int). Juga anggota pasukan Pakistan menyaru sebagai pemandu untuk menyeberangkan para Talib melalui khayber menuju Pakistan. Begitu kaum Talib melewati perbatasan mereka diringkus dan diserahkan kepada British Army untuk diidentifikasi dan dikembalikan ke daerah asal. Jika masih melakukan kerusuhan lagi dan terbukti maka akan dimasukkan daftar sasaran oleh sniper-team marinir.

British Army, 1st Royal Welsh Brigade

Taktik ini sangat jitu sehingga banyak kaum Talib yang terkecoh dan rasa saling tidak percaya mulai nampak dikalangan mereka sendiri yang akan melemahkan posisi mereka tanpa menimbulkan korban pihak sipil yang signifikan. Entah ini yang dikatakan sebagai pengecut.

4. Pasukan NATO di propinsi Helmand dan Kunar tidak hanya terdiri dari US Marine tetapi justru bulk pasukan terdiri dari US Army, British Army, Pakistan dan Pasukan pemerintah Afghan. US Marine hanya sebagian kecil dan bertindak sebagai pathfinder bagi pasukan NATO beserta combat-support-nya.
Khusus untuk Marjah serangan kami lakukan dengan gabungan dari US Army Stryker Brigade dan US Marine. Yang mana US Army membawa heavy armor berupa Tank M1A2 Abrams beserta APC (Armored Personnel Carrier). Sementara US Marine masih memakai sistem classic Infantry assault.

Saya adalah penganut Infantry tactic yang traditionalist. Sehingga gelar perang darat yang berintikan serangan cepat dan akurat hanya bisa diperoleh dengan ketepatan serangan oleh pasukan Infantry yang mobile yang memiliki akurasi tembakan.

Tidak berusaha menyombongkan diri, kebetulan pengalaman dari 4 serbuan besar mulai dari Battle of An-Nasiriyah, Battle of Al-Fallujah (Op. Al-Fajr), Ramadi kesemuanya di Iraq, hingga Lashkar-Gah (Afghan) dan baru baru ini di Marjah (Op. Moshtarak), saya selalu kebagian tugas sebagai komandan pasukan ujung tombak. Semuanya saya lakukan dengan pendekatan Infantry assault.
Tak kurang dulu seorang pemimpin spiritual terkenal di Iraq yaitu Muqtada "the Mookie" Al-Sadr terbirit birit lari Ke Iran dan tentara Mahdi-nya hancur dibabat pasukan saya hanya dengan 1 battalion Marinir di Battle of Najaf Iraq. Akibat perintah dari pusat, maka jepitan tidak diteruskan lebih lanjut karena Mr Mookie bersedia duduk di parlemen.

Sudah sejak sebulan lalu Marjah direbut oleh pasukan saya. Sekarang tanggung jawab telah diserahkan kepada Tentara Nasional Republik Islam Afghanistan dan kepolisian, yang di back-up oleh British Army.

US Marine in Op. Moshtarak

Heli EVAC

Army-Marine in Op. Moshtarak

5. Secara "matematis" (LOL) justru tidak lebih dari 18.000 yang asli US/British selebihnya adalah pasukan nasional Afghan.

6. Beberapa otak penting dibelakang insurgensi Taliban telah tertangkap seputar operasi Moshtarak. Yaitu
a. Mollah Abdul Ghani Baradar yang merupakan orang nomor 2 Setelah Mollah Omar,
b. Mollah Salam.
c. Hakimullah Mehsud (tewas).

Hingga saat ini di kedua propinsi konsentrasi Taliban telah berkurang jauh. Kebanyakan berbaur ke penduduk bahkan lari menyebrangi perbatasan menuju pakistan. Oleh sebab itu target tujuan utama telah terpenuhi yaitu Counter-Insurgency yang bertujuan melemahkan pasukan Talib dan memaksanya kembali ke kantung kantung awal mereka.

Jadi sekali lagi tujuan operasi ini justru tidak meremukkan Taliban, seperti halnya "al Mookie" dan pengikutnya di Sadr City tidak ditumpas habis. Melainkan dilemahkan agar tidak menjadi opressive dan menimbulkan jatuhnya korban sipil. Selebihnya diajak untuk menjadi bagian dari parlemen gabungan dalam Republik Islam Afghanistan.

Mohon maaf jika ada beberapa gambar membuat beberapa rekan muslim menjadi tidak berkenan.

Semper Fi,

Menyoal PTSD bagi veteran perang

$
0
0
Banyak diantara kalangan awam kurang mengerti saat melihat foto yang menggambarkan seorang prajurit di garis depan dengan tatapan mata kosong dan terbelak. Seolah yang punya mata memandang ke arah nun-jauh disana yang berusaha dipandang dengan tatapan mata tanpa fokus, dan tidak berusaha untuk fokus. Seolah otak sedang berdialog dengan hatinya tanpa hiraukan keadaan sekitar.

Bagi kalangan Infantry atau satuan satuan yang berada di garis depan yang menyaksikan pertarungan sengit, sering menyebut sebagai "Thousand-yard stare". Suatu bentuk laku otak untuk menghambat deraan psikologis si prajurit. Thousand-yard stare merupakan suatu bentuk karakteristik dari Combat-Stress reaction yang jika tidak di tangani akan mengakibatkan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Hal demikian sudah merupakan suatu fenomena dan sudah terekam sejak manusia mengenal perang. Suatu karya seni atau disebut Chronicle by Sophocales sekitar 450 BC, tentang perjalanan psikologis Ajax setelah masa Illiad dan Trojan War.

Bagaimana kejengkelan Ajax karena kehormatan perang berupa perisai sakti Achilles justru diberikan kepada Odysseus. Kebencian ditambah dengan dengan luka luka perang baik fisik maupun pasikologis membangkitkan perasaan meradang yang berlebihan. Dia melampiaskan dendamnya dengan membunuh tentara musuh dengan sadistik.

Tak kurang seorang Dewi Athena yang berusaha membantu dengan menyihir domba domba yang diaku sebagai musuh musuh utamanya untuk disembelih. Setelah perasaan dendamnya tersalurkan, barulah Ajax sadar bahwa dia telah terbenam dalam kebencian dan mengorbankan perasaan orang orang terdekatnya. Dengan perasaan redam dia menghunus pedang saktinya yang merupakan salah satu senjata tangguh semasa perang Trojan, mengubur ditanah dengan ujung menghadap keatas. Lalu meloncat kearah pedang terhunus tersebut hingga tewas.

Saya pernah melihat para prajurit infantry yang masih muda tengah mengalami goncangan jiwa di medan perang. Akibat deraan psikologis yang tiba tiba menyerang fondasi kepercayaan diri dan menggempur pranata awal konsepsinya terhadap perilaku manusia.
Dengan kata lain, pemandangan dan pengalaman yang disuguhkan sudah sedemikian rupa sehingga melebihi kapasitas toleransinya terhadap pola laku yang sudah tertanam sejak kecil (childhood programming).

Menyaksikan film perang berbeda dengan menyaksikan sendiri jika seseorang tertembak, terkena bom dll. Apalagi jika korban adalah teman dekat atau sahabat yang baru saja berbagi rokok, saling tukar pikiran, atau baru saja berbicara yang tiba tiba terputus akibat kepalanya tertembus peluru.

Setiap orang tidak memiliki ambang toleransi yang sama dalam mensikapi masalah yang tiba tiba mendera perasaan. Pula tergantung dari kuatnya gemblengan mental saat pendidikan militer yang telah dilaluinya. Pemahaman core-value keprajuritan adalah salah satu buffer sebagai penahan tujahan luka mental seperti yang dibahas diatas.
Menurut kajian sebuah penelitian militer, PTSD bagi para veteran perang Afghan dan Iraq menunjukkan bahwa satuan satuan yang memiliki dedikasi dan pahaman core-value kemiliteran memiliki angka terendah jumlah penderita PTSD per battalion, dibandingkan dengan satuan satuan yang kurang penanaman disiplin core-value. Hal inilah yang memicu restrukturisasi pendidikan dasar kemiliteran. Dengan lebih meningkatkan ke-samaptaan dan pemahaman core-value yang spesifik bagi angkatan.

Yang menjadi masalah adalah, gangguan kejiwaan ini muncul justru setelah penderita menjalani kehidupan sipil. Gejala PTSD justru muncul setelah tuntutan kehidupan disekitarnya tidak memerlukan ketahanan syaraf bajanya (over alert) seperti yang dibutuhkan di medan perang. Gangguan ini tidak membahayakan jika ditangani secara dini.
Parahnya lagi, penderita menyembunyikan gangguan kejiwaan tersebut karena alasan alasan tertentu. Karena malu dianggap lemah, dianggap tidak profesional, dan dianggap menghalagi karir militernya bagi yang melanjutkan jenjang kepangkatan dll.

Di US military, penanganan PTSD bagi veteran perang sudah mulai menunjukkan peningkatan kualitas pelayanan secara drastis. Kementrian pertahanan (USDOD) bekerja sama dengan VA telah menggalakkan standar layanan bagi para tentara yang akan dikirim maupun yang baru saja pulang dari tugas tempur. Menurut Col. (USArmy) Charles Hoge, chief of Psychiatry and Neuroscience at the Walter Reed Institute of Research, menyerukan tinjauan ulang terhadap prosedur psychological fit-test bagi tiap tiap prajurit seyogyanya dilakukan setiap enam bulan sekali bagi semua personel militer tanpa kecuali.
Ini adalah lompatan yang effisien dan luar biasa. Mengingat bahwa banyak personel militer mengalami penugasan tempur lebih dari sekali. Dan banyak diantara mereka yang mengacuhkan faktor psikologis tersebut karena alasan sudah terbiasa. Padahal PTSD adalah fenomena gunung es yang sangat berbahaya.

Pelajaran berharga yang dapat dipetik adalah, pencegahan PTSD seharusnya dilakukan jauh hari sebelum si-prajurit akan dikirim ke tugas tempur. Hal ini dipandang effektif dan cara termurah. Dengan membuat baku sistem indoktrinasi militer bagi para rekruit maupun militer aktif. Serta mengadakan psychological fit-test setiap 6 bulan sekali selama masa tugas militer.

Viewing all 25 articles
Browse latest View live