Banyak masalah sosial yang sebenarnya tidak timbul ke permukaan, akibat terbukanya suatu peluang akan meng-akselerasi munculnya fenomena fenomena tersebut, sekalipun banyak tantangan baik secara sinisme maupun ancaman fisik.
Dua hari kemarin, saya menerima laporan tentang perkembangan baru di Iraq. Bahwa kondisi masyarakat sudah mulai mengarah ke gejala anarkis kembali. Tidak seperti biasanya, sekalipun berakibat yang sama yaitu tewasnya pihak sipil. Tetapi munculnya suatu fenomena baru dimana kumpulan masyarakat Gay, Lesbian yang "Out of The Closet". Kalau di US mereka dapat dengan bangga mengatakan hal demikian, bahkan dapat mengadakan parade tentang Gay Pride.
Akan lain halnya jika hal ini muncul di daerah yang justru tidak disangka dan istilahnya mungkin "jauh panggang dari api". Baru baru ini timbul gejala baku bunuh antar kelompok yang sudah kawakan yaitu antara Sunni dan Shiah. Tetapi kali ini mereka kelihatan seirama menghadapi musuh sosial yaitu munculnya gerakan kaum muda, wanita maupun gerakan kaum Gay yang semakin nyata.
Dua homoseksual, yang bernama Salim al-Bachar yang sering dipanggil Salima, beserta partnernya Rochim atau Rohana, yang sering bekerja di salon semalam ditembak point-blank dan di mutilasi kelaminnya, lalu dijejalkan kemulut yang kemudian dijahit. Sekilas seperti aksi terror oleh para mafia atau Los Angeles street gangster. Tetapi jika si korban di dahinya tertulis "Dajjal" atau "Khasiyy" atau "Mukhannath" yang ditujukan kelada kaum Gay beserta kutipan ayat kitab suci tentunya akan membawa fenomena ini ke dimensi lain.
Perhatian bukan hanya akibat terbunuhnya kedua orang tersebut, tetapi fenomena ini seperti merebak di kota kota besar bukan hanya di Iraq tetapi mulai merambat ke negara negara Islam. Gerakan reformis kaum muda yang terang terangan menolak gaya hidup totalitarian dengan menanggalkan jamis yang diganti dengan T-Shirt bertuliskan kata kata "mutiara". Bahkan kaum wanita mulai menanggalkan attribut burqa menggantinya dengan sepatu basket, jeans semi ketat dan jaket. Sebagian masih mengenakan tutup kepala dengan mengenakan topi atau baret, rambut seluruhnya dimasukkan kedalam sehingga tertutup topi. Bukan hanya dari kalangan terdidik dan kalangan elit tetapi sudah mulai membudaya ke kalangan bawah juga.
Beer juga bukan merupakan barang yang haram seperti sebelumnya. Sekarang hampir di tiap pojok swalayan terdapat tumpukan kaleng beer. OK... mungkin ini untuk konsumsi para "tentara infedel" di Iraq. Tetapi ternyata konsumsi justru dari kalangan Iraqi sendiri. Merknya juga bukan Heinneken, Budweiser, Samuel-Adams, Coors maupun beer papan atas. Juga bukan beer buatan Mexico seperti Tecatè, Corona, Sol, Dos Equis, maupun beer galon murahan Cerveza Cucapà. Tetapi justru beer asli Iraq lengkap dengan caligrafi bersangkutan. Seperti diketahui beer justru lahir di Iraq, yang saat itu disebut Mesopotamia. Bahkan dicantumkan dalam kode Hammurabi dengan tulisan huruf paku. Kemudian akibat arus dagang berkembang hingga ke Mesir dan Greek yang saat itu juga merupakan pusat kebudayaan besar. Banyak resep resep kuno bermunculan dalam bentuk mulai dari Ale hingga seperti rasa Malt maupun Root beer beralkohol.
Yang tak kalah seru adalah bangkitnya reformis women-power di dunia Islam merupakan ancaman serius bagi gerakan Talibanisasi dengan Syari'at Islam-nya. Dimana para wanita sudah mulai secara terang "mbalelo" (pen. Jawa: tidak patuh) kepada ketentuan tersebut. Sekalipun dengan ancaman maut. Tetap saja ada individu yang secara terang terangan berjalan dengan tanpa tutup kepala, make-up dan jeans ketat berjalan ke pasar. Bahkan tanpa kawalan kerabat dekatnya. Untuk menangkal tatapan nakal dan harassment para kambing bandot berjanggut, tentu saja dapat dikendalikan dengan camera-phone yang mererebak beserta pepper-spray yang laku bak kacang goreng.Korban jelas banyak yang berjatuhan entah akibat pukulan, group-stoning, tembakan sniper maupun sengaja ditabrak saat menyeberang jalan. Tetapi membuat grakan ini semakin menjadi jadi, bahkan sudah menguat. Banyak kaum muda sekarang terang terangan mengaku bahwa mereka sudah muak dengan kaum Mufti dan Ulama. Bahkan beberapa kelompok sudah menyatakan perang terhadap pasukan Syari'at dari kalangan Sunni maupun Shi'ah dengan perlawanan senjata.
Sebagai epilog, saya hanya akan melayangkan pertanyaan kontemplasi, bahwa apakah tekanan berlebihan (fundamentalisasi) terhadap gaya hidup atas nama agama akan membawa dampak pelunturan drajad kepercayaan secara internal? Atau barangkali justru inilah fenomena yang dapat meredam atau yang sering disebut reverse-Talibanisasi di seluruh dunia?